Dari judulnya, tulisan ini mungkin terlihat kontroversial.
Namun penulis tidak sedang membuat gaduh ataupun ngotot jika pendapat yang ada
di tulisan ini pasti benar. Tulisan ini ada setelah penulis membaca riset dari
Tim Bajulijo.net berjudul SIVB Untold Stories yang juga dimuat di
emosijiwaku.com. Tulisan lima seri tersebut mengungkapkan fakta-fakta yang sebagian
bertentangan dengan pendapat kebanyakan pecinta Persebaya.
Dalam riset itu diketahui jika Persebaya bukan SIVB
(Soerabaiashe Indische Voetbal Bond) melainkan SVB (Soerabaiashe Voetbal Bond).
Artinya Persebaya tidak lahir 18 Juni 1927 melainkan berdiri pada 1910-an,
tahun lahir SVB. Sayang riset belum bisa menunjukkan kapan tepatnya SVB lahir.
Awalnya, penulis tidak begitu yakin. Namun setelah membaca
lima seri tulisan itu, penulis sangat yakin jika Persebaya adalah SVB. Mari
kita telusuri fakta-fakta yang diungkap dalam riset itu.
1. Orang-orang Belanda di Surabaya sepakat mendirikan SVB
pada tahun 1910-an.
2. Indonesiche Studieclub (IS), organisasi yang
beranggotakan petinggi-petinggi SIVB, pada saat krisis ekonomi 1920-an sangat
aktif melakukan kegiatan sosial ekonomi yang meringankan penderitaan rakyat
Indonesia. Organisasi ini pada prakteknya mendapat dukungan dari pemerintah
Hindia Belanda karena sifat organisasinya yang moderat/cooperatie.
3. M Pamoedji, salah satu pendiri SIVB, tercatat sebagai
anggota IS.
4. SIVB lahir pada 18 Juni 1927. SIVB dibentuk tidak untuk
melawan hegemoni SVB atau melawan penjajah, melainkan untuk menyediakan akses
bagi bond-bond anggota SIVB terhadap sepak bola.
5. Pertandingan uji coba antara SIVB dan SVB maupun
anggotanya berkali-kali digelar. Perbedaan status sosial kedua bond tidak
menghalangi mereka untuk bertanding.
6. Tujuh klub, termasuk SIVB, sepakat mendirikan PSSI.
Setelah PSSI berdiri, sebagian besar anggotanya menyarankan PSSI menolak
kerjasama dengan NIVB, organisasi sepak bola bentukan pemerintah Hindia
Belanda. SIVB termasuk yang menentang saran itu dan menganjurkan tetap
bekerjasama dengan NIVB.
7. SIVB dan SVB tetap bertanding dalam pertandingan uji coba
meski PSSI menolak bekerjasama dengan NIVB.
8. Pada Kongres PSSI 1938, Ketua PSSI Ir. Soeratin
menyarankan anggotanya mengubah nama klub dengan nama melayu. SIVB kemudian
berubah nama menjadi Persibaja atau Persatuan Sepakraga Indonesia Soerabaja.
9. Invasi Jepang pada Februari 1942 menyebabkan kompetisi di
bawah PSSI, NIVU (NIVB), hingga HNVB menjadi vakum. SIVB dan SVB pun merasakan
dampaknya dan kemudian vakum.
10. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Persibaja/SIVB
bertransformasi menjadi PORIS. Meski begitu organisasi induknya yaitu PSSI
masih belum aktif.
11. Pasca proklamasi, Belanda melancarkan agresi ke
Indonesia. Pada 1947, kompetisi di bawah NIVU dihidupkan kembali. SVB pun
mengikuti kembali kompetisi bentukan NIVU. NIVU berubah nama menjadi
VUVSI/ISNIS.
12. Sejak 1947-1950, tercatat empat turnamen nasional
digelar VUVSI/ISNIS. SVB menjadi juara pada 1949.
13. 1950, drama perebutan kekuasaan berakhir dengan
Indonesia sebagai pemenang. Kondisi ini mengharuskan klub-klub di bawah VUVSI/ISNIS
untuk bergabung ke dalam PSSI atau membubarkan diri.
14. April 1950, SVB berubah nama menjadi PSS (Persatuan
Sepakraga Soerabaja) dan kemudian berganti lagi menjadi Persibaja.
15. PSS berani mengklaim sebagai Persibaja karena PORIS
(Nama baru pengganti Persibaja pasca proklamasi) belum ada kegiatan karena PSSI
masih belum aktif.
16. Agar tetap berkegiatan, PORIS bergabung dalam kompetisi
internal yang diadakan PSS/SVB.
17. Tidak ada merger di antara kedua bond (SVB dan SIVB)
karena SIVB memutuskan menjadi peserta kompetisi internal SVB.
18. Pada 15 September 1952, Persibaja (PSS/SVB), mengadakan
rapat anggota yang menetapkan SIVB sebagai cikal bakal Persibaja dalam AD/ART.
Fakta itu bertolak belakan dengan fakta bahwa SVB yang menjadi cikal bakal
klub. Jersey yang dipilih adalah hijau-putih yang identik dengan jersey SIVB,
bukan putih-putih warna jersey SVB.
19. Sejak pengesahan AD/ART itulah, identitas SVB sebagai
bagian dari sejarah Persibaja berangsur-angsur hilang.
20. Tahun 1969, Persibaja berubah nama menjadi Persebaja dan
kemudian berubah lagi menjadi Persebaya sesuai ejaan sekarang.
Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam grafis berikut ini:
Dari fakta-fakta di atas, pemilihan SIVB sebagai klub cikal
bakal Persebaya sesungguhnya adalah pilihan politis. Pemilihan itu didasari
fakta jika SIVB adalah pendiri PSSI yang notabene menentang atau tidak mau
bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda.
Indonesia adalah pemenang dari perebutan kekuasaan dengan
Belanda. Ada ungkapan bahwa sejarah ditentukan sang pemenang. Para anggota
Persibaja saat menetapkan AD/ART tentu lebih condong memilih SIVB ketimbang
SVB. Alasannya karena SIVB adalah klub bentukan orang-orang pribumi, sementara
SVB jelas-jelas bikinan penjajah.
Sejarah adalah kumpulan fakta-fakta yang terjadi
Bung Karno pernah berkata: “Jas Merah, Jangan Sekali-kali
Melupakan Sejarah.” Jika kita mau menuruti perkataan bapak proklamator kita,
tentu kita harus berani mengkoreksi sejarah yang salah. Kita harus mendudukkan
sejarah dengan benar. Sejarah seharusnya dianggap sebagai fakta. Sejarah bukan
sesuatu yang sifatnya politis.
Di negara-negara yang sudah maju, kesalahan sejarah yang
ditemukan ditindaklanjuti dengan keberanian mengoreksi sejarah yang terlanjur
beredar. Sayangnya fakta-fakta sejarah di Indonesia sering dimaknai secara
politis. Sesuatu yang dianggap melenceng dari kepercayaan bangsa ini meski
benar dianggap salah.
Orde Baru adalah orde di mana sejarah seringkali dibelokkan
sesuai dengan kemauan penguasa. Seperti halnya sejarah kelam 1965 yang
dibelokkan. Fakta-fakta yang bertentangan dengan apa yang diinginkan penguasa
dianggap tidak benar. Sampai saat ini, pemerintah hanya menuruti narasi yang
dibuat penguasa Orde Baru yang celakanya diamini sebagian besar rakyat
Indonesia. Padahal pengungkapan sejarah secara jujur dengan menyajikan
fakta-fakta yang ada akan membuat generasi sekarang bisa belajar sejarah dengan
baik dan benar.
Baru-baru ini saya membaca tentang kesalahan nama pengibar
bendera Amerika di Pulau Iwo Jima saat Perang Dunia ke-2. Peristiwa pengibaran
bendera itu diabadikan dalam sebuah foto ikonik karya Joe Rosenthal, fotografer
AP. Selama ini, semua orang percaya jika John H. Bradley adalah salah satu dari
enam tentara marinir yang mengibarkan bendera setelah Amerika merebut pulau itu
dari tangan Jepang.
Sebuah panel yang terdiri dari orang-orang yang mengerti sejarah
tentara marinir Amerika meneliti kebenaran sejarah itu. Ternyata, mereka
menemukan fakta jika Bradley bukan salah satu pengibar bendera melainkan Harold
Schultz. Pihak marinir awalnya tidak setuju fakta yang diungkap pada 2014 itu.
Namun pada 23 Juni 2016, mereka mengakui fakta itu dan menyatakan Harold
Schultz berada dalam foto ikonik tersebut.
Kembali kepada penemuan fakta Persebaya di atas. Riset Tim
Bajulijo.net sangat penting bagi pengungkapan sejarah. Riset tersebut bisa
dijadikan bahan diskusi bagi siapa saja yang mencintai Persebaya. Diskusi
diharapkan bisa mendudukkan permasalahan dengan benar.
Setelah keluarnya riset dan tulisan ini, saya berharap ada
lagi tulisan yang bisa memperkaya khasanah sejarah Persebaya. Tak harus
mendukung, mungkin saja ada tulisan yang membantah riset dan tulisan ini.
Tulisan yang nantinya keluar harus disertai fakta-fakta meyakinkan dan bukan
sekedar asumsi sehingga bisa dipertanggungjawabkan.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah
pendahulunya. Tentu sejarah sebenarnya yang memang benar-benar terjadi dan
bukan hasil politisasi. (*)