Translate

Minggu, 20 September 2020

PERSEBAYA VS PSG(putra Sinar Giri)=5-0


Persebaya Surabaya kembali memetik kemenangan saat melakoni laga uji coba. Kali ini, mereka menang 5-0 atas tim Liga 2, Putra Sinar Giri (PSG), di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Minggu sore (20/9/2020). 

Lima gol Persebaya masing-masing disumbang oleh pemain yang berbeda. Mereka adalah Mahmoud Eid (21’-penalti), Arif Satria (52’), Makan Konate (54’), Patrich Wanggai (65’), dan Akbar Firmansyah. 

Meski berhasil menang, tim berjulukan Bajul Ijo sempat kesulitan mengembangkan permainan selama babak pertama, terutama 20 menit pertama. Pelatih Persebaya, Aji Santoso, menilai itu adalah kondisi yang wajar. 

“Normal saja, dalam sepak bola itu normal. Lawannya juga tim bagus, pemain-pemain muda punya tenaga kuat cara bermain bagus. Anak-anak (para pemain Persebaya) mencari bentuk permainan,” ungkap Aji setelah pertandingan.

“Tapi setelah 10-15 menit, permainan berjalan dengan baik. Apalagi babak kedua juga anak-anak cukup mendominasi dengan kombinasi satu dua sentuhan di tempat lawan. Hampir semuanya bermain,” imbuhnya. 

Babak kedua permainan Persebaya memang lebih berkembang dengan membukukan hingga empat gol. Menariknya, dari total lima gol yang tercipta, hanya dua yang lahir melalui open play

Tiga gol pertama tercipta dari bola mati. Dimulai dari gol pertama yang merupakan eksekusi penalti Mahmoud Eid. Lalu, gol kedua adalah skema sepakan bebas Makan Konate yang sukses diselesaikan menjadi gol oleh stoper Arif Satria. Sedangkan gol ketiga merupakan tendangan bebas langsung dari Makan Konate.

PERSEBAYA VS PON JATIM=5-3


Menang Lagi, Tapi Masih Banyak Evaluasi

Hari ini Persebaya kembali menggelar pertandingan uji coba melawan Tim Sepak Bola PON Jatim. Mendapat lawan yang lebih kuat dari laga sebelumnya, Bajol Ijo tetap bisa menang dengan skor 5-3. Meski begitu, Aji Santoso mengaku masih perlu membenahi banyak hal.

Pelatih Persebaya tersebut menemukan beberapa kelemahan timnya dalam uji coba yang digelar sore tadi. Salah satunya adalah masalah konsentrasi di menit-menit akhir.

"Terutama di pertandingan babak pertama tadi, anak-anak cukup bagus. Babak kedua juga tadi sebenarnya kami menguasai jalannya pertandingan, cuma di menit-menit akhir anak-anak agak sedikit turun," beber Aji.

Patrich Wanggai tampil membawa Persebaya unggul 1-0 di awal babak pertama. Sebelum akhirnya disamakan oleh Muhammad Faisol. Namun brace Mahmoud Eid mampu membawa Green Force menutup babak pertama dengan skor 3-1.

Pada babak kedua, Persebaya kembali menambah pundi-pundi gol. Irfan Jaya dan Oktafianus Fernando mengubah skor menjadi 5-1. Sayangnya pada 10 menit akhir barisan pertahanan Persebaya lengah dan membuat Muhammad Faisol mencetak dua gol tambahan.

Kebobolan tiga gol di laga uji coba dijadikan Aji sebagai dasar evaluasi timnya. Selain itu mantan pelatih timnas Indonesia tersebut juga belum puas dengan barisan depan Persebaya.

"Tentunya akan ada evaluasi, semuanya akan saya evaluasi. Baik pertahanan, gelandang maupun penyerangan," jelas Aji.

"Jadi masih ada waktu untuk kami bisa evaluasi, terutama di menit-menit akhir, konsentrasi dan fokus pemain tidak boleh turun," sambungnya.

Sementara itu, seluruh pemain Persebaya mendapat kesempatan bermain pada laga uji coba tadi. Rencananya Aji masih akan melakukan beberapa uji coba untuk menemukan komposisi paling pas.

"Dalam uji coba hari ini saya mencoba semua pemain kecuali Dicky sama Akbar, belum saya mainkan. Nanti kami akan melekukan beberapa uji coba lagi, dan ini tadi saya masih coba komposisi-komposisi pemain yang paling tepat itu siapa," tutup sosok yang pernah membawa Persebaya juara musim 1997/1998.


PERSEBAYA VS BINTANG TIMUR=11-0

Persebaya Surabaya menggelar internal game melawan tim lokal Bintang Timur di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo pada Sabtu (12/09/20) pagi. Pertandingan tersebut sebagai persiapan tim jelang lanjutan Liga 1 2020.

Pertandingan internal game ini menurut Aji Santoso sangat penting. Setelah berlatih selama dua pekan ini, dia ingin melihat kondisi dan kemampuan para pemainnya dalam skema bertanding. 

"Memang pemain setelah libur cukup lama belum pernah melakukan pertandingan yang benar-benar artinya uji coba dengan tim lain," kata Aji Santoso pada Sabtu (12/09/20).

Internal game yang digelar pagi tadi pun ada maksud dan tujuan yang ingin dilihat oleh Aji Santoso. Salah satunya, mantan pelatih Persela Lamongan tersebut ingin mengembalikan sentuhan bola para pemainnya.

"Tujuan kami ingin mengembalikan sentuhan-sentuhan pemain di dalam pertandingan," sambung bapak lima orang anak itu.

Pada pertandingan tersebut, Persebaya menang mudah melawan Bintang Timur dengan skor 11-0. Meskipun menang besar, Aji Santoso tidak melihat jumlah gol yang berhasil dicetak oleh anak didiknya. Aji lebih mengedepankan bagiamana kerjasama tim dan proses terjadinya gol tersebut. 

"Saya yang jelas kalau uji coba yang utama bukan hasil. Tapi bagaimana kerjasama pemain dan kualitas fisik pemain," tutupnya.

Sekedar informasi internal game Persebaya ini merupakan pertama kali mereka gelar pasca latihan tatap muka selama dua minggu. Selama latihan yang sudah berlangsung itu, Aji Santoso cukup puas melihat kondisi pemainnya.

Mereka tampak tidak banyak mengalami penurunan meskipun hanya berlatih di rumah dan secara online saja. Bahkan pemain asing Bajul Ijo langsung mengikuti latihan secara penuh sehari setelah mereka tiba di Surabaya.

Sejumlah pemain Persebaya mengatakan tetap latihan disiplin meskipun tidak berlangsung secara tatap muka. Dua pemain asing Bajul Ijo Aryn Williams dan Mahmoud Eid pun sama, selama di Australia dan Swedia, mereka tetap disiplin menjalankan rutinitas latihan seperti biasanya.

Senin, 10 Februari 2020

PIALA GUBENUR JATIM th.2020


*FINAL
- PERSEBAYA vs persija=4-1


*SEMI FINAL
-persija vs madura united=2-1
-PERSEBAYA vs arema=4-2


*GRUP-A
Klasemen akhir Grup A
1. Persebaya 3 2 0 1 7-4 (+3) 6*
3. Madura United 3 1 1 1 4-5 (-1) 4*
2 Bhayangkara FC 3 1 1 1 2-4 (-2) 4
4. Persik Kediri 3 1 0 2 4-4 (+0) 3

-PERSEBAYA vs persik=3-1
-madura united vs bhayangkara fc=1-1
-bhayangkara fc FC vs PERSEBAYA=1-0
-persik vs Madura united=0-1
-madura united vs PERSEBAYA=2-4
persik vs bhayangkara fc=3-0


GRUP-B
Klasemen akhir Grup B
1. Persija 3 2 1 0 7-2 (5+) 7*
2. arema 3 2 1 0 6-2  (4+) 7*
3. sabah fa 3 0 1 2 2-6 (-4) 1
4. Persela 3 0 1 2 4-9 (-5) 1

Persija vs Persela=4-1
Arema vs Sabah fa=2-0
sabah fa vs persija=0-2
arema vs persela=3-1
persela vs sabah fa=2-2
arema vs persija=1-1

Jumat, 31 Januari 2020

PERSEBAYA VS PERSEBAYA U-20 & U-18

FT-PERSEBAYA VS PERSEBAYA U-20 & U-18=4-1


Machmoud Eid Main Full, Seluruh Pemain Dapat Kesempatan
Persebaya kian mematangkan persiapan menjelang uji coba melawan Sabah FA pada 8 Februari nanti. Sore tadi, tim besutan Aji Santoso itu menggelar uji coba melawan tim junior di Gelora Bung Tomo. Melawan tim gabungan Persebaya U-18 dan U-20, Bajol Ijo menang 4-1 pada laga yang digelar 2x45 menit itu.
Pada laga tersebut Aji memberikan menit bermain pada seluruh pemain Persebaya. Mantan pelatih timnas Indonesia tersebut ingin pemainnya merasakan atmosfer yang lebih serius sebelum nantinya menjamu Sabah FA.
"Uji coba hari adalah uji coba pemanasan untuk uji coba sesungguhnya lawan Sabah, jadi ini tadi saya memainkan semua pemain," terang Aji.
Pelatih berusia 49 tahun tersebut menilai permainan anak asuhnya cukup menjanjikan di uji coba pertama ini. "Sentuhan satu dua juga lumayan, tetapi masih banyak yang harus saya sempurnakan. Lagi pula lawan yang kita hadapi hari ini levelnya di bawah kita, jadi tidak bisa dijadikan ukuran," ungkap Aji. "Tapi saya sampaikan pada pemain untuk tetap serius dan mencoba semua yang sudah kita latih di latihan beberapa minggu ini dan mengimplementasikan di uji coba kali ini," imbuhnya.
Selain memberi jam terbang untuk seluruh pemain, Aji juga memberikan waktu bermain penuh untuk pemain asing anyar Persebaya, Mahmoud Eid. Sosok yang ikut menyumbang medali emas SEA Games 1991 tersebut ingin Mahmoud segera beradaptasi dengan tim.
Hasilnya dua dari empat gol yang diciptakan Persebaya lahir dari kaki pemain berpaspor Palestina tersebut. "Mahmoud saya mainkan full karena saya ingin dia cepat beradaptasi, dia juga belum pernah bermain dengan tim secata penuh sejak bergabung," tuturnya.
Sementara itu dua pemain bertahan, Muhammad Syaifuddin dan Arief Satria juga bermain 90 menit dengan alasan berbeda. Duo palang pintu Persebaya tersebut tidak bisa digantikan mengingat stok pemain belakang Persebaya menipis. Hansamu Yama masih menjalani ibadah Umroh, sedangkan Rizky Ridho sedang mengikuti TC bersama timnas U-19. Bek naturalisasi Zoubairou Garba juga masih dalam proses pemulihan cedera.
© Persebaya.id

Senin, 06 Januari 2020

PERINGKAT PERSEBAYA 2019


Dengan perolehan PERSEBAYA di peringkat 2 liga-1 indonesia,maka PERSEBAYA membuka peluang untuk lolos ke PIALA AFC dengan syarat Bali United lolos LIGA CHAMPIONS ASIA.
PERSEBAYA mendapatkan jatah lolos secara langsung di ASEAN CLUB CHAMPIONSHIP bersama Bali United.


Persebaya Tidak Lahir 18 Juni 1927


Dari judulnya, tulisan ini mungkin terlihat kontroversial. Namun penulis tidak sedang membuat gaduh ataupun ngotot jika pendapat yang ada di tulisan ini pasti benar. Tulisan ini ada setelah penulis membaca riset dari Tim Bajulijo.net berjudul SIVB Untold Stories yang juga dimuat di emosijiwaku.com. Tulisan lima seri tersebut mengungkapkan fakta-fakta yang sebagian bertentangan dengan pendapat kebanyakan pecinta Persebaya.

Dalam riset itu diketahui jika Persebaya bukan SIVB (Soerabaiashe Indische Voetbal Bond) melainkan SVB (Soerabaiashe Voetbal Bond). Artinya Persebaya tidak lahir 18 Juni 1927 melainkan berdiri pada 1910-an, tahun lahir SVB. Sayang riset belum bisa menunjukkan kapan tepatnya SVB lahir.

Awalnya, penulis tidak begitu yakin. Namun setelah membaca lima seri tulisan itu, penulis sangat yakin jika Persebaya adalah SVB. Mari kita telusuri fakta-fakta yang diungkap dalam riset itu.


1. Orang-orang Belanda di Surabaya sepakat mendirikan SVB pada tahun 1910-an.



2. Indonesiche Studieclub (IS), organisasi yang beranggotakan petinggi-petinggi SIVB, pada saat krisis ekonomi 1920-an sangat aktif melakukan kegiatan sosial ekonomi yang meringankan penderitaan rakyat Indonesia. Organisasi ini pada prakteknya mendapat dukungan dari pemerintah Hindia Belanda karena sifat organisasinya yang moderat/cooperatie.

3. M Pamoedji, salah satu pendiri SIVB, tercatat sebagai anggota IS.

4. SIVB lahir pada 18 Juni 1927. SIVB dibentuk tidak untuk melawan hegemoni SVB atau melawan penjajah, melainkan untuk menyediakan akses bagi bond-bond anggota SIVB terhadap sepak bola.

5. Pertandingan uji coba antara SIVB dan SVB maupun anggotanya berkali-kali digelar. Perbedaan status sosial kedua bond tidak menghalangi mereka untuk bertanding.

6. Tujuh klub, termasuk SIVB, sepakat mendirikan PSSI. Setelah PSSI berdiri, sebagian besar anggotanya menyarankan PSSI menolak kerjasama dengan NIVB, organisasi sepak bola bentukan pemerintah Hindia Belanda. SIVB termasuk yang menentang saran itu dan menganjurkan tetap bekerjasama dengan NIVB.

7. SIVB dan SVB tetap bertanding dalam pertandingan uji coba meski PSSI menolak bekerjasama dengan NIVB.

8. Pada Kongres PSSI 1938, Ketua PSSI Ir. Soeratin menyarankan anggotanya mengubah nama klub dengan nama melayu. SIVB kemudian berubah nama menjadi Persibaja atau Persatuan Sepakraga Indonesia Soerabaja.

9. Invasi Jepang pada Februari 1942 menyebabkan kompetisi di bawah PSSI, NIVU (NIVB), hingga HNVB menjadi vakum. SIVB dan SVB pun merasakan dampaknya dan kemudian vakum.

10. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Persibaja/SIVB bertransformasi menjadi PORIS. Meski begitu organisasi induknya yaitu PSSI masih belum aktif.

11. Pasca proklamasi, Belanda melancarkan agresi ke Indonesia. Pada 1947, kompetisi di bawah NIVU dihidupkan kembali. SVB pun mengikuti kembali kompetisi bentukan NIVU. NIVU berubah nama menjadi VUVSI/ISNIS.

12. Sejak 1947-1950, tercatat empat turnamen nasional digelar VUVSI/ISNIS. SVB menjadi juara pada 1949.

13. 1950, drama perebutan kekuasaan berakhir dengan Indonesia sebagai pemenang. Kondisi ini mengharuskan klub-klub di bawah VUVSI/ISNIS untuk bergabung ke dalam PSSI atau membubarkan diri.

14. April 1950, SVB berubah nama menjadi PSS (Persatuan Sepakraga Soerabaja) dan kemudian berganti lagi menjadi Persibaja.

15. PSS berani mengklaim sebagai Persibaja karena PORIS (Nama baru pengganti Persibaja pasca proklamasi) belum ada kegiatan karena PSSI masih belum aktif.

16. Agar tetap berkegiatan, PORIS bergabung dalam kompetisi internal yang diadakan PSS/SVB.

17. Tidak ada merger di antara kedua bond (SVB dan SIVB) karena SIVB memutuskan menjadi peserta kompetisi internal SVB.

18. Pada 15 September 1952, Persibaja (PSS/SVB), mengadakan rapat anggota yang menetapkan SIVB sebagai cikal bakal Persibaja dalam AD/ART. Fakta itu bertolak belakan dengan fakta bahwa SVB yang menjadi cikal bakal klub. Jersey yang dipilih adalah hijau-putih yang identik dengan jersey SIVB, bukan putih-putih warna jersey SVB.

19. Sejak pengesahan AD/ART itulah, identitas SVB sebagai bagian dari sejarah Persibaja berangsur-angsur hilang.

20. Tahun 1969, Persibaja berubah nama menjadi Persebaja dan kemudian berubah lagi menjadi Persebaya sesuai ejaan sekarang.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam grafis berikut ini:


Dari fakta-fakta di atas, pemilihan SIVB sebagai klub cikal bakal Persebaya sesungguhnya adalah pilihan politis. Pemilihan itu didasari fakta jika SIVB adalah pendiri PSSI yang notabene menentang atau tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda.

Indonesia adalah pemenang dari perebutan kekuasaan dengan Belanda. Ada ungkapan bahwa sejarah ditentukan sang pemenang. Para anggota Persibaja saat menetapkan AD/ART tentu lebih condong memilih SIVB ketimbang SVB. Alasannya karena SIVB adalah klub bentukan orang-orang pribumi, sementara SVB jelas-jelas bikinan penjajah.

Sejarah adalah kumpulan fakta-fakta yang terjadi

Bung Karno pernah berkata: “Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.” Jika kita mau menuruti perkataan bapak proklamator kita, tentu kita harus berani mengkoreksi sejarah yang salah. Kita harus mendudukkan sejarah dengan benar. Sejarah seharusnya dianggap sebagai fakta. Sejarah bukan sesuatu yang sifatnya politis.

Di negara-negara yang sudah maju, kesalahan sejarah yang ditemukan ditindaklanjuti dengan keberanian mengoreksi sejarah yang terlanjur beredar. Sayangnya fakta-fakta sejarah di Indonesia sering dimaknai secara politis. Sesuatu yang dianggap melenceng dari kepercayaan bangsa ini meski benar dianggap salah.

Orde Baru adalah orde di mana sejarah seringkali dibelokkan sesuai dengan kemauan penguasa. Seperti halnya sejarah kelam 1965 yang dibelokkan. Fakta-fakta yang bertentangan dengan apa yang diinginkan penguasa dianggap tidak benar. Sampai saat ini, pemerintah hanya menuruti narasi yang dibuat penguasa Orde Baru yang celakanya diamini sebagian besar rakyat Indonesia. Padahal pengungkapan sejarah secara jujur dengan menyajikan fakta-fakta yang ada akan membuat generasi sekarang bisa belajar sejarah dengan baik dan benar.

Baru-baru ini saya membaca tentang kesalahan nama pengibar bendera Amerika di Pulau Iwo Jima saat Perang Dunia ke-2. Peristiwa pengibaran bendera itu diabadikan dalam sebuah foto ikonik karya Joe Rosenthal, fotografer AP. Selama ini, semua orang percaya jika John H. Bradley adalah salah satu dari enam tentara marinir yang mengibarkan bendera setelah Amerika merebut pulau itu dari tangan Jepang.

Sebuah panel yang terdiri dari orang-orang yang mengerti sejarah tentara marinir Amerika meneliti kebenaran sejarah itu. Ternyata, mereka menemukan fakta jika Bradley bukan salah satu pengibar bendera melainkan Harold Schultz. Pihak marinir awalnya tidak setuju fakta yang diungkap pada 2014 itu. Namun pada 23 Juni 2016, mereka mengakui fakta itu dan menyatakan Harold Schultz berada dalam foto ikonik tersebut.

Kembali kepada penemuan fakta Persebaya di atas. Riset Tim Bajulijo.net sangat penting bagi pengungkapan sejarah. Riset tersebut bisa dijadikan bahan diskusi bagi siapa saja yang mencintai Persebaya. Diskusi diharapkan bisa mendudukkan permasalahan dengan benar.

Setelah keluarnya riset dan tulisan ini, saya berharap ada lagi tulisan yang bisa memperkaya khasanah sejarah Persebaya. Tak harus mendukung, mungkin saja ada tulisan yang membantah riset dan tulisan ini. Tulisan yang nantinya keluar harus disertai fakta-fakta meyakinkan dan bukan sekedar asumsi sehingga bisa dipertanggungjawabkan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah pendahulunya. Tentu sejarah sebenarnya yang memang benar-benar terjadi dan bukan hasil politisasi. (*)


Persebaya Bukan (Hanya) SIVB




Pasca proklamasi kemerdekaan tahun 1945, Indonesia tidak langsung dapat menikmati kemerdekaan dengan mudah. Pasca kekalahan Jepang, Belanda kembali ke Indonesia dengan maksud ingin menguasai “mantan” daerah koloninya. Tarik ulur kekuasaan di antaranya terjadi melalui berbagai peristiwa, dari perundingan-perundingan damai hingga konfrontasi berdarah. Sempat berkuasa sebentar, Belanda melakukan beberapa aksi nyata termasuk urusan sikulit bundar.

ISNIS dan transformasi anggotanya

Tahun 1947 Kompetisi sepakbola yang sebelumnya dikelola oleh NIVU sejak 1910an kembali dihidupkan lagi setelah agresi militer Belanda. NIVU yang vakum sejak invasi Jepang berubah nama menjadi VUVSI/ISNIS (Voetbal Unie in de Verenigde Staten van Indonesie/Ikatan Sepakraga Negara Indonesia Serikat) pada tahun 1948. Aktifitas sepakbola di kota-kota yang diduduki Belanda juga dihidupkan, bond-bond lawas termasuk SVB di Surabaya beserta anggota-anggotanya kembali aktif dan berkompetisi.


Sejak 1947 hingga 1950 tercatat 4 turnamen nasional (stedenwedstrijden) diselenggarakan oleh VUVSI/ISNIS, dalam 4 gelaran tersebut Soerabaja (baca : SVB) sukses menjadi juara pada tahun 1949 dan 1950, sisanya dimenangkan oleh VBO Jakarta.



Menjelang tahun 1950-an drama perebutan kekuasaan antara Indonesia dan Belanda mendekati babak akhir, pemenangnya, sudah pasti Indonesia. Kondisi tersebut memberi konsekuensi tersendiri bagi bond-bond anggota VUVSI/ISNIS. Pilihannya hanya dua, bergabung dengan PSSI yang akan aktif kembali atau membubarkan diri. Di beberapa kota yang sebelumnya diduduki Belanda opsi yang dipilih oleh bond-bond tersebut bisa berbeda-beda tergantung iklim sosial politik disana. Namun mengingat aksi militer Belanda serta sejarah kelam kolonialisasi selama ratusan tahun di Indonesia, opsi bergabung pun bahkan tidak akan semudah yang dibayangkan.

Iklim sepakbola Surabaya yang memang jauh lebih kondusif sejak dulu membuat opsi yang tersedia bahkan lebih sederhana. April 1950, sesaat sebelum stedenwedstrijden VUVSI/ISNIS menuju babak final di Bandung. SVB melakukan perubahan nama menjadi P.S.S (Persatuan Sepakraga Soerabaja). Tidak cukup sampai disitu, dalam pemberitaannya, harian De Vrij Pers edisi 13 April 1950 menyebutkan bahwa P.S.S kelak akan berubah menjadi Persibaja setelah bergabung dengan PORI yang saat itu merupakan induk organisasi seluruh olahraga di Indonesia (termasuk sepakbola atau PSSI). Bergabung dalam PORI sepakbola (PSSI) menjadi opsi yang akan diambil bagi Persebaja (P.S.S).

Perubahan nama dalam bahasa Indonesia konon juga dilakukan oleh bond-bond anggota VUVSI/ISNIS di kota-kota lain. Besar kemungkinan hal tersebut dilakukan untuk menarik simpati masyarakat, maklum sejarah mencatat hubungan harmonis antara bond Belanda dan bond Indonesia mungkin hanya terjadi di Surabaya. Bagi bond-bond Belanda di luar Surabaya hubungan buruk mereka dengan bond Indonesia di masa lampau (bahkan mungkin hingga saat itu) membuat opsi bergabung semakin menjauh.

Pilihan berbeda Surabaya

Mengapa PSS berani mengklaim akan menggunakan nama Persibaja, bukankah PORIS (Persibaja/SIVB) sudah aktif sejak 1948? Lalu bagaimana dengan PORIS (baca: Persibaja) atau SIVB?

Sejak Jepang menyerah kepada Sekutu, Persibaja yang bertransformasi menjadi PORIS masih belum dapat melakukan aktifitasnya mengingat PSSI belum aktif kembali. Jika PORIS ingin terus eksis maka hanya ada satu pilihan, bergabung dalam kompetisi PSS/SVB. Sejak 1947 PORIS yang diperkuat pemain-pemain pribumi asli termasuk Saderan[1] telah aktif bertanding dalam kompetisi Persebaja (baca : PSS/SVB).

Namun benarkah Persibaja (baca: PORIS) bergabung dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh PSS/SVB?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami mencoba menelusuri jejak PORIS dalam kompetisi PSS/SVB. Dalam kolom olahraganya, Nieuwe Courant edisi 31 Desember 1947 memberitakan tentang kompetisi internal PSS/SVB dengan PORIS ikut tergabung didalamnya, selain itu lapangan Pasar Toeri yang notabene merupakan markas Persibaja (baca: PORIS) menjadi salah satu venue pertandingan tersebut.

Pemberitaan kompetisi PSS/SVB pada tahun 1947 yang menunjukkan keikutsertaan PORIS. - Dikutip dari (Nieuwe Courant 31 Desember 1947)
Pemberitaan kompetisi PSS/SVB pada tahun 1947 yang menunjukkan keikutsertaan PORIS. – Dikutip dari (Nieuwe Courant 31 Desember 1947)
Nieuwe Courant yang rajin memberitakan kompetisi internal PSS/SVB kembali memberitakan hasil pertandingan antara PORIS melawan SVJA yang berakhir imbang tanpa gol pada edisi tanggal 6 Desember 1948. Keikutsertaan PORIS dalam kompetisi PSS/SVB terus berlanjut hingga kini, saat ini PORIS telah berubah nama menjadi Fatahillah dan masih aktif tergabung dalam kompetisi Persebaya.

Sepakbola Surabaya memiliki sejarah panjang dan berliku, pilihan untuk bergabung menjadi faktor pembeda dengan kota-kota lainnya. Memang (dalam konteks sepakbola) Surabaya selalu berbeda, saat kota-kota lain menolak bekerjasama dengan bond Belanda, Surabaya bersikap sebaliknya. Saat kota-kota lain hanya bisa nggerundel saat diperlakukan tidak adil, Surabaya justru melakukan perlawanan (boikot sepakbola) dengan sempurna (terencana, terstruktur, dan efektif).

Namun kurang bijak rasanya jika memahami sejarah hebat Persebaya hanya dari sudut perlawanan saja. Hal tersebut ibarat melihat sosok Spiderman sebagai superhero semata tanpa melihat sisi personal seorang Peter Parker.

Perlawanan hanyalah sepotong kecil pelajaran yang bisa diambil dari sejarah Persebaya dan bukan yang utama.

Di Surabaya, sepakbola tidak pernah tercatat sebagai faktor pemecah. Sebaliknya, sepakbola justru menjadi faktor pemersatu yang menghancurkan sekat dan tembok tebal antara bangsa penjajah dan terjajah, antara Mener dengan Inlander.

Sejarah mencatat sejak dulu sepakbola Surabaya selalu menempatkan urusan sepakbola sebagai prioritas di atas segala kepentingan non sepakbola (politik, kekuasaan atau kepentingan-kepentingan pribadi). Sesuatu yang sulit atau bahkan mungkin tak akan pernah dipahami oleh petinggi-petinggi Persebaya saat ini. Seandainya saja mereka mau belajar dari sejarah Persebaya.

SEJARAH SINGKAT PERSEBAYA


*SEJARAH
Persebaya didirikan oleh M. Pamoedji pada 18 Jun 1927. Pada awal berdirinya, Persebaya bernama Soerabajasche Indische Voetbal Bond (SIVB)[4]. Pada saat itu di Surabaya juga ada klub bernama Soerabajasche Voetbal Bond (SVB), bonden (klub) ini berdiri pada tahun 1910 dan pemainnya adalah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya.

Pada tanggal 19 April 1930, SIVB bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung (sekarang Persib Bandung), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. SIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh M. Pamoedji. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota atau yang disebut kejuaraan nasional perserikatan diselenggarakan. SIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1938 meski kalah dari VIJ Jakarta.

Ketika Belanda kalah dari Jepang pada 1942, prestasi SIVB yang hampir semua pemainnya adalah pemain pribumi dan sebagian kecil keturunan Tionghoa melejit dan kembali mencapai final sebelum dikalahkan oleh Persis Solo. Akhirnya pada tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja). Pada era ini Persibaja diketuai oleh Dr. Soewandi. Kala itu, Persibaja berhasil meraih gelar juara pada tahun 1951 dan 1952.

Tahun 1959, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya). Pada era perserikatan ini, prestasi Persebaya juga istimewa. Persebaya adalah salah satu raksasa perserikatan selain PSMS Medan, PSM Makassar, Persib Bandung maupun Persija Jakarta. Dua kali Persebaya menjadi kampiun pada tahun 1978 dan 1988, dan lima kali menduduki peringkat kedua pada tahun 1965, 1971, 1973, 1987, dan 1990.

Prestasi gemilang terus terjaga ketika PSSI menyatukan klub Perserikatan dan Galatama dalam kompetisi profesional bertajuk Liga Indonesia sejak 1994. Persebaya merebut gelar juara Liga Indonesia pada tahun 1996-97. Bahkan Persebaya berhasil mencetak sejarah sebagai tim pertama yang dua kali menjadi juara Liga Indonesia ketika pada tahun 2004 Green Force kembali merebut gelar juara. Kendati berpredikat sebagai tim klasik sarat gelar juara, Green Force juga sempat merasakan pahitnya terdegradasi pada tahun 2002 lalu. Pil pahit yang langsung ditebus dengan gelar gelar juara Divisi I dan Divisi Utama pada dua musim selanjutnya.

*KONTROVERSI

Informasi lebih lanjut: Sepak Bola Gajah
Dalam perjalanannya, Persebaya beberapa kali mengalami kejadian kontroversial. Saat menjuarai Kompetisi Perserikatan pada tahun 1988, Persebaya pernah memainkan pertandingan yang terkenal dengan istilah Sepak Bola Gajah karena mengalah kepada Persipura Jayapura 0-12[5], untuk menyingkirkan saingan mereka PSIS Semarang yang pada tahun sebelumnya memupuskan impian Persebaya di final kompetisi perserikatan. Taktik ini setidaknya membawa hasil dan Persebaya berhasil menjadi juara perserikatan tahun 1988 dengan mengalahkan Persija 3 - 2 di final

Pada Liga Indonesia 2002, Persebaya melakukan aksi mogok tanding saat menghadapi PKT Bontang dan diskors pengurangan nilai. Kejadian tersebut menjadi salah satu penyebab terdegradasinya Persebaya ke divisi I. Tiga tahun kemudian atau tahun 2005, Persebaya menggemparkan publik sepak bola nasional saat mengundurkan diri pada babak delapan besar sehingga memupuskan harapan PSIS Semarang dan PSM Makassar untuk lolos ke final. Atas kejadian tersebut Persebaya diskors 16 bulan tidak boleh mengikuti kompetisi Liga Indonesia. Namun, skorsing diubah direvisi menjadi hukuman degradasi ke Divisi I Liga Indonesia.

*DUALISME
Artikel utama: Dualisme Persebaya Surabaya
Pada musim 2009/2010 merupakan awal mula dualisme Persebaya Surabaya. Persebaya Surabaya (PT Persebaya Indonesia) mengalami degradasi ke Divisi Utama akibat dipaksa melakukan pertandingan ulang sebanyak 3 kali melawan Persik Kediri dengan tempat yang berbeda yaitu di Kediri, Yogyakarta[6], dan Palembang[7]. Pada pertandingan ulang ketiga pihak Persebaya menolak melakukan pertandingan ulang, pihak manajemen tidak terima dan tidak mau ikut Divisi Utama kemudian mengikuti liga ilegal "Liga Primer Indonesia" dari sebelumnya bernama Persebaya Surabaya (PT Surabaya Indonesia) diubah menjadi Persebaya 1927 (PT Persebaya Indonesia).

Memanfaatkan slot Persebaya di Divisi Utama musim selanjutnya, Wisnu Wardhana mengambil alih Persikubar (Kutai Barat) dan mendaftarkannya sebagai Persebaya untuk mengikuti Kompetisi Divisi Utama. Walaupun menyandang nama resmi Persebaya, tim bentukan Wisnu Wardhana tersebut tidak terlalu mendapat tempat di hati Bonek (Suporter Persebaya), mereka lebih setia untuk mendukung Persebaya "asli" yang terpaksa mengganti nama mereka menjadi Persebaya 1927 akibat dualisme kompetisi, dan LPI tidak diakui sebagai kompetisi resmi PSSI.

Persikubar Kutai Barat yang diambil Wisnu Wardhana dan diubah nama menjadi Persebaya Surabaya (kini Bhayangkara FC) untuk bisa mengikuti Liga Indonesia, kemudian berhasil promosi kembali ke Liga Super Indonesia pada musim 2014. Kemudian pada musim 2015 sayangnya liga diberhentikan setelah tidak diakui oleh Pemerintah dan kemudian Indonesia di Banned oleh FIFA.

Pada musim 2015, Persebaya 1927 (PT Persebaya Indonesia) memenangkan gugatan hak paten nama dan logo Persebaya,[8] sehingga secara otomatis legalitas Persebaya Surabaya adalah dibawah PT. Persebaya Indonesia. Hal ini mengakibatkan Persebaya Surabaya versi Wisnu Wardhana harus merubah nama menjadi Bonek FC. Setahun kemudian, Bonek FC kembali mengubah nama menjadi Surabaya United atas desakan Bonek yang tidak mau namanya dipakai untuk klub yang tidak merepresentasikan mereka (Bonek tetap setia mendukung Persebaya 1927).

Pada musim 2016 Surabaya United melakukan merger dengan PS Polri dan kemudian kembali merubah namanya menjadi Bhayangkara Surabaya United dan berlanjut sampai dengan mengikuti kompetisi Indonesia Soccer Championship, di paruh kedua kompetisi tepat pada bulan Mei 2016 Polri resmi membeli 100% saham Bhayangkara Surabaya United dan menghapus nama belakang klub sehingga sekarang bernama Bhayangkara FC, pada bulan yang sama hasil rapat Exco yang digelar di Solo, Persebaya 1927 disahkan kembali sebagai anggota PSSI dan akan disahkan pada KLB di Makassar dan akan kembali berkompetisi di Divisi Utama musim 2017. Namun, pada kongres PSSI yang dilakukan di Jakarta pada 10 November 2016 membatalkan agenda pengesahan tersebut. Ketua PSSI terpilih, Edy Rahmayadi menjanjikan akan menyelesaikan permasalahan Persebaya pada kongres selanjutnya di Bandung.

Pada musim 2017 Persebaya Surabaya kembali berkompetisi di Liga 2, dan berhasil menjadi juara dengan mengalahkan PSMS Medan di final, lalu promosi ke Liga 1.

Pada pada musim 2018 Persebaya berhasil menduduki peringkat 5 di klasemen akhir Liga 1. Peringkat ini cukup mengejutkan publik sepakbola tanah air karena sebagai tim promosi, tidak diduga Persebaya dapat menembus 5 besar, di saat yang sama tim-tim promosi kurang bisa bersaing bahkan ada yang kembali harus turun kaste ke Liga 2.

Pada jeda kompetisi, sambil menunggu Kompetisi Liga 1 Tahun 2019 digulirkan, Persebaya mengikuti turnamen pramusim bertajuk "Piala Presiden 2019", dan berhasil menjadi runner- up.

PROFIL BLOG PERSEBAYA FANS



* OPRATOR BLOG : MARIO GIBOL
* TANGGAL DI BUAT : SELASA,7 JANUARI 2020
* MISI BLOG : BERBAGI INFORMASI TENTANG PERSEBAYA & TIMNAS INDONESIA

PERSELA VS PERSEBAYA=1-3

https://youtu.be/_rlFNb1ptiU