FT-PERSEBAYA VS PERSEBAYA U-20 & U-18=4-1
Machmoud Eid Main Full, Seluruh Pemain Dapat Kesempatan
Persebaya kian mematangkan persiapan menjelang uji coba melawan Sabah FA pada 8 Februari nanti. Sore tadi, tim besutan Aji Santoso itu menggelar uji coba melawan tim junior di Gelora Bung Tomo. Melawan tim gabungan Persebaya U-18 dan U-20, Bajol Ijo menang 4-1 pada laga yang digelar 2x45 menit itu.
Pada laga tersebut Aji memberikan menit bermain pada seluruh pemain Persebaya. Mantan pelatih timnas Indonesia tersebut ingin pemainnya merasakan atmosfer yang lebih serius sebelum nantinya menjamu Sabah FA.
"Uji coba hari adalah uji coba pemanasan untuk uji coba sesungguhnya lawan Sabah, jadi ini tadi saya memainkan semua pemain," terang Aji.
Pelatih berusia 49 tahun tersebut menilai permainan anak asuhnya cukup menjanjikan di uji coba pertama ini. "Sentuhan satu dua juga lumayan, tetapi masih banyak yang harus saya sempurnakan. Lagi pula lawan yang kita hadapi hari ini levelnya di bawah kita, jadi tidak bisa dijadikan ukuran," ungkap Aji. "Tapi saya sampaikan pada pemain untuk tetap serius dan mencoba semua yang sudah kita latih di latihan beberapa minggu ini dan mengimplementasikan di uji coba kali ini," imbuhnya.
Selain memberi jam terbang untuk seluruh pemain, Aji juga memberikan waktu bermain penuh untuk pemain asing anyar Persebaya, Mahmoud Eid. Sosok yang ikut menyumbang medali emas SEA Games 1991 tersebut ingin Mahmoud segera beradaptasi dengan tim.
Hasilnya dua dari empat gol yang diciptakan Persebaya lahir dari kaki pemain berpaspor Palestina tersebut. "Mahmoud saya mainkan full karena saya ingin dia cepat beradaptasi, dia juga belum pernah bermain dengan tim secata penuh sejak bergabung," tuturnya.
Sementara itu dua pemain bertahan, Muhammad Syaifuddin dan Arief Satria juga bermain 90 menit dengan alasan berbeda. Duo palang pintu Persebaya tersebut tidak bisa digantikan mengingat stok pemain belakang Persebaya menipis. Hansamu Yama masih menjalani ibadah Umroh, sedangkan Rizky Ridho sedang mengikuti TC bersama timnas U-19. Bek naturalisasi Zoubairou Garba juga masih dalam proses pemulihan cedera.
© Persebaya.id
Translate
Jumat, 31 Januari 2020
Sabtu, 11 Januari 2020
Senin, 06 Januari 2020
PERINGKAT PERSEBAYA 2019
Dengan perolehan PERSEBAYA di peringkat 2 liga-1 indonesia,maka PERSEBAYA membuka peluang untuk lolos ke PIALA AFC dengan syarat Bali United lolos LIGA CHAMPIONS ASIA.
PERSEBAYA mendapatkan jatah lolos secara langsung di ASEAN CLUB CHAMPIONSHIP bersama Bali United.
Persebaya Tidak Lahir 18 Juni 1927
Dari judulnya, tulisan ini mungkin terlihat kontroversial.
Namun penulis tidak sedang membuat gaduh ataupun ngotot jika pendapat yang ada
di tulisan ini pasti benar. Tulisan ini ada setelah penulis membaca riset dari
Tim Bajulijo.net berjudul SIVB Untold Stories yang juga dimuat di
emosijiwaku.com. Tulisan lima seri tersebut mengungkapkan fakta-fakta yang sebagian
bertentangan dengan pendapat kebanyakan pecinta Persebaya.
Dalam riset itu diketahui jika Persebaya bukan SIVB
(Soerabaiashe Indische Voetbal Bond) melainkan SVB (Soerabaiashe Voetbal Bond).
Artinya Persebaya tidak lahir 18 Juni 1927 melainkan berdiri pada 1910-an,
tahun lahir SVB. Sayang riset belum bisa menunjukkan kapan tepatnya SVB lahir.
Awalnya, penulis tidak begitu yakin. Namun setelah membaca
lima seri tulisan itu, penulis sangat yakin jika Persebaya adalah SVB. Mari
kita telusuri fakta-fakta yang diungkap dalam riset itu.
1. Orang-orang Belanda di Surabaya sepakat mendirikan SVB
pada tahun 1910-an.
2. Indonesiche Studieclub (IS), organisasi yang
beranggotakan petinggi-petinggi SIVB, pada saat krisis ekonomi 1920-an sangat
aktif melakukan kegiatan sosial ekonomi yang meringankan penderitaan rakyat
Indonesia. Organisasi ini pada prakteknya mendapat dukungan dari pemerintah
Hindia Belanda karena sifat organisasinya yang moderat/cooperatie.
3. M Pamoedji, salah satu pendiri SIVB, tercatat sebagai
anggota IS.
4. SIVB lahir pada 18 Juni 1927. SIVB dibentuk tidak untuk
melawan hegemoni SVB atau melawan penjajah, melainkan untuk menyediakan akses
bagi bond-bond anggota SIVB terhadap sepak bola.
5. Pertandingan uji coba antara SIVB dan SVB maupun
anggotanya berkali-kali digelar. Perbedaan status sosial kedua bond tidak
menghalangi mereka untuk bertanding.
6. Tujuh klub, termasuk SIVB, sepakat mendirikan PSSI.
Setelah PSSI berdiri, sebagian besar anggotanya menyarankan PSSI menolak
kerjasama dengan NIVB, organisasi sepak bola bentukan pemerintah Hindia
Belanda. SIVB termasuk yang menentang saran itu dan menganjurkan tetap
bekerjasama dengan NIVB.
7. SIVB dan SVB tetap bertanding dalam pertandingan uji coba
meski PSSI menolak bekerjasama dengan NIVB.
8. Pada Kongres PSSI 1938, Ketua PSSI Ir. Soeratin
menyarankan anggotanya mengubah nama klub dengan nama melayu. SIVB kemudian
berubah nama menjadi Persibaja atau Persatuan Sepakraga Indonesia Soerabaja.
9. Invasi Jepang pada Februari 1942 menyebabkan kompetisi di
bawah PSSI, NIVU (NIVB), hingga HNVB menjadi vakum. SIVB dan SVB pun merasakan
dampaknya dan kemudian vakum.
10. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Persibaja/SIVB
bertransformasi menjadi PORIS. Meski begitu organisasi induknya yaitu PSSI
masih belum aktif.
11. Pasca proklamasi, Belanda melancarkan agresi ke
Indonesia. Pada 1947, kompetisi di bawah NIVU dihidupkan kembali. SVB pun
mengikuti kembali kompetisi bentukan NIVU. NIVU berubah nama menjadi
VUVSI/ISNIS.
12. Sejak 1947-1950, tercatat empat turnamen nasional
digelar VUVSI/ISNIS. SVB menjadi juara pada 1949.
13. 1950, drama perebutan kekuasaan berakhir dengan
Indonesia sebagai pemenang. Kondisi ini mengharuskan klub-klub di bawah VUVSI/ISNIS
untuk bergabung ke dalam PSSI atau membubarkan diri.
14. April 1950, SVB berubah nama menjadi PSS (Persatuan
Sepakraga Soerabaja) dan kemudian berganti lagi menjadi Persibaja.
15. PSS berani mengklaim sebagai Persibaja karena PORIS
(Nama baru pengganti Persibaja pasca proklamasi) belum ada kegiatan karena PSSI
masih belum aktif.
16. Agar tetap berkegiatan, PORIS bergabung dalam kompetisi
internal yang diadakan PSS/SVB.
17. Tidak ada merger di antara kedua bond (SVB dan SIVB)
karena SIVB memutuskan menjadi peserta kompetisi internal SVB.
18. Pada 15 September 1952, Persibaja (PSS/SVB), mengadakan
rapat anggota yang menetapkan SIVB sebagai cikal bakal Persibaja dalam AD/ART.
Fakta itu bertolak belakan dengan fakta bahwa SVB yang menjadi cikal bakal
klub. Jersey yang dipilih adalah hijau-putih yang identik dengan jersey SIVB,
bukan putih-putih warna jersey SVB.
19. Sejak pengesahan AD/ART itulah, identitas SVB sebagai
bagian dari sejarah Persibaja berangsur-angsur hilang.
20. Tahun 1969, Persibaja berubah nama menjadi Persebaja dan
kemudian berubah lagi menjadi Persebaya sesuai ejaan sekarang.
Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam grafis berikut ini:
Dari fakta-fakta di atas, pemilihan SIVB sebagai klub cikal
bakal Persebaya sesungguhnya adalah pilihan politis. Pemilihan itu didasari
fakta jika SIVB adalah pendiri PSSI yang notabene menentang atau tidak mau
bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda.
Indonesia adalah pemenang dari perebutan kekuasaan dengan
Belanda. Ada ungkapan bahwa sejarah ditentukan sang pemenang. Para anggota
Persibaja saat menetapkan AD/ART tentu lebih condong memilih SIVB ketimbang
SVB. Alasannya karena SIVB adalah klub bentukan orang-orang pribumi, sementara
SVB jelas-jelas bikinan penjajah.
Sejarah adalah kumpulan fakta-fakta yang terjadi
Bung Karno pernah berkata: “Jas Merah, Jangan Sekali-kali
Melupakan Sejarah.” Jika kita mau menuruti perkataan bapak proklamator kita,
tentu kita harus berani mengkoreksi sejarah yang salah. Kita harus mendudukkan
sejarah dengan benar. Sejarah seharusnya dianggap sebagai fakta. Sejarah bukan
sesuatu yang sifatnya politis.
Di negara-negara yang sudah maju, kesalahan sejarah yang
ditemukan ditindaklanjuti dengan keberanian mengoreksi sejarah yang terlanjur
beredar. Sayangnya fakta-fakta sejarah di Indonesia sering dimaknai secara
politis. Sesuatu yang dianggap melenceng dari kepercayaan bangsa ini meski
benar dianggap salah.
Orde Baru adalah orde di mana sejarah seringkali dibelokkan
sesuai dengan kemauan penguasa. Seperti halnya sejarah kelam 1965 yang
dibelokkan. Fakta-fakta yang bertentangan dengan apa yang diinginkan penguasa
dianggap tidak benar. Sampai saat ini, pemerintah hanya menuruti narasi yang
dibuat penguasa Orde Baru yang celakanya diamini sebagian besar rakyat
Indonesia. Padahal pengungkapan sejarah secara jujur dengan menyajikan
fakta-fakta yang ada akan membuat generasi sekarang bisa belajar sejarah dengan
baik dan benar.
Baru-baru ini saya membaca tentang kesalahan nama pengibar
bendera Amerika di Pulau Iwo Jima saat Perang Dunia ke-2. Peristiwa pengibaran
bendera itu diabadikan dalam sebuah foto ikonik karya Joe Rosenthal, fotografer
AP. Selama ini, semua orang percaya jika John H. Bradley adalah salah satu dari
enam tentara marinir yang mengibarkan bendera setelah Amerika merebut pulau itu
dari tangan Jepang.
Sebuah panel yang terdiri dari orang-orang yang mengerti sejarah
tentara marinir Amerika meneliti kebenaran sejarah itu. Ternyata, mereka
menemukan fakta jika Bradley bukan salah satu pengibar bendera melainkan Harold
Schultz. Pihak marinir awalnya tidak setuju fakta yang diungkap pada 2014 itu.
Namun pada 23 Juni 2016, mereka mengakui fakta itu dan menyatakan Harold
Schultz berada dalam foto ikonik tersebut.
Kembali kepada penemuan fakta Persebaya di atas. Riset Tim
Bajulijo.net sangat penting bagi pengungkapan sejarah. Riset tersebut bisa
dijadikan bahan diskusi bagi siapa saja yang mencintai Persebaya. Diskusi
diharapkan bisa mendudukkan permasalahan dengan benar.
Setelah keluarnya riset dan tulisan ini, saya berharap ada
lagi tulisan yang bisa memperkaya khasanah sejarah Persebaya. Tak harus
mendukung, mungkin saja ada tulisan yang membantah riset dan tulisan ini.
Tulisan yang nantinya keluar harus disertai fakta-fakta meyakinkan dan bukan
sekedar asumsi sehingga bisa dipertanggungjawabkan.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah
pendahulunya. Tentu sejarah sebenarnya yang memang benar-benar terjadi dan
bukan hasil politisasi. (*)
Persebaya Bukan (Hanya) SIVB
Pasca proklamasi kemerdekaan tahun 1945, Indonesia tidak
langsung dapat menikmati kemerdekaan dengan mudah. Pasca kekalahan Jepang,
Belanda kembali ke Indonesia dengan maksud ingin menguasai “mantan” daerah
koloninya. Tarik ulur kekuasaan di antaranya terjadi melalui berbagai
peristiwa, dari perundingan-perundingan damai hingga konfrontasi berdarah.
Sempat berkuasa sebentar, Belanda melakukan beberapa aksi nyata termasuk urusan
sikulit bundar.
ISNIS dan transformasi anggotanya
Tahun 1947 Kompetisi sepakbola yang sebelumnya dikelola oleh
NIVU sejak 1910an kembali dihidupkan lagi setelah agresi militer Belanda. NIVU
yang vakum sejak invasi Jepang berubah nama menjadi VUVSI/ISNIS (Voetbal Unie
in de Verenigde Staten van Indonesie/Ikatan Sepakraga Negara Indonesia Serikat)
pada tahun 1948. Aktifitas sepakbola di kota-kota yang diduduki Belanda juga
dihidupkan, bond-bond lawas termasuk SVB di Surabaya beserta anggota-anggotanya
kembali aktif dan berkompetisi.
Sejak 1947 hingga 1950 tercatat 4 turnamen nasional
(stedenwedstrijden) diselenggarakan oleh VUVSI/ISNIS, dalam 4 gelaran tersebut
Soerabaja (baca : SVB) sukses menjadi juara pada tahun 1949 dan 1950, sisanya
dimenangkan oleh VBO Jakarta.
Menjelang tahun 1950-an drama perebutan kekuasaan antara
Indonesia dan Belanda mendekati babak akhir, pemenangnya, sudah pasti
Indonesia. Kondisi tersebut memberi konsekuensi tersendiri bagi bond-bond
anggota VUVSI/ISNIS. Pilihannya hanya dua, bergabung dengan PSSI yang akan
aktif kembali atau membubarkan diri. Di beberapa kota yang sebelumnya diduduki
Belanda opsi yang dipilih oleh bond-bond tersebut bisa berbeda-beda tergantung
iklim sosial politik disana. Namun mengingat aksi militer Belanda serta sejarah
kelam kolonialisasi selama ratusan tahun di Indonesia, opsi bergabung pun
bahkan tidak akan semudah yang dibayangkan.
Iklim sepakbola Surabaya yang memang jauh lebih kondusif
sejak dulu membuat opsi yang tersedia bahkan lebih sederhana. April 1950,
sesaat sebelum stedenwedstrijden VUVSI/ISNIS menuju babak final di Bandung. SVB
melakukan perubahan nama menjadi P.S.S (Persatuan Sepakraga Soerabaja). Tidak
cukup sampai disitu, dalam pemberitaannya, harian De Vrij Pers edisi 13 April
1950 menyebutkan bahwa P.S.S kelak akan berubah menjadi Persibaja setelah
bergabung dengan PORI yang saat itu merupakan induk organisasi seluruh olahraga
di Indonesia (termasuk sepakbola atau PSSI). Bergabung dalam PORI sepakbola
(PSSI) menjadi opsi yang akan diambil bagi Persebaja (P.S.S).
Perubahan nama dalam bahasa Indonesia konon juga dilakukan
oleh bond-bond anggota VUVSI/ISNIS di kota-kota lain. Besar kemungkinan hal
tersebut dilakukan untuk menarik simpati masyarakat, maklum sejarah mencatat
hubungan harmonis antara bond Belanda dan bond Indonesia mungkin hanya terjadi
di Surabaya. Bagi bond-bond Belanda di luar Surabaya hubungan buruk mereka
dengan bond Indonesia di masa lampau (bahkan mungkin hingga saat itu) membuat
opsi bergabung semakin menjauh.
Pilihan berbeda Surabaya
Mengapa PSS berani mengklaim akan menggunakan nama
Persibaja, bukankah PORIS (Persibaja/SIVB) sudah aktif sejak 1948? Lalu
bagaimana dengan PORIS (baca: Persibaja) atau SIVB?
Sejak Jepang menyerah kepada Sekutu, Persibaja yang
bertransformasi menjadi PORIS masih belum dapat melakukan aktifitasnya
mengingat PSSI belum aktif kembali. Jika PORIS ingin terus eksis maka hanya ada
satu pilihan, bergabung dalam kompetisi PSS/SVB. Sejak 1947 PORIS yang
diperkuat pemain-pemain pribumi asli termasuk Saderan[1] telah aktif bertanding
dalam kompetisi Persebaja (baca : PSS/SVB).
Namun benarkah Persibaja (baca: PORIS) bergabung dalam
kompetisi yang diselenggarakan oleh PSS/SVB?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami mencoba menelusuri
jejak PORIS dalam kompetisi PSS/SVB. Dalam kolom olahraganya, Nieuwe Courant
edisi 31 Desember 1947 memberitakan tentang kompetisi internal PSS/SVB dengan
PORIS ikut tergabung didalamnya, selain itu lapangan Pasar Toeri yang notabene
merupakan markas Persibaja (baca: PORIS) menjadi salah satu venue pertandingan
tersebut.
Pemberitaan kompetisi PSS/SVB pada tahun 1947 yang
menunjukkan keikutsertaan PORIS. - Dikutip dari (Nieuwe Courant 31 Desember
1947)
Pemberitaan kompetisi PSS/SVB pada tahun 1947 yang
menunjukkan keikutsertaan PORIS. – Dikutip dari (Nieuwe Courant 31 Desember
1947)
Nieuwe Courant yang rajin memberitakan kompetisi internal
PSS/SVB kembali memberitakan hasil pertandingan antara PORIS melawan SVJA yang
berakhir imbang tanpa gol pada edisi tanggal 6 Desember 1948. Keikutsertaan
PORIS dalam kompetisi PSS/SVB terus berlanjut hingga kini, saat ini PORIS telah
berubah nama menjadi Fatahillah dan masih aktif tergabung dalam kompetisi
Persebaya.
Sepakbola Surabaya memiliki sejarah panjang dan berliku,
pilihan untuk bergabung menjadi faktor pembeda dengan kota-kota lainnya. Memang
(dalam konteks sepakbola) Surabaya selalu berbeda, saat kota-kota lain menolak
bekerjasama dengan bond Belanda, Surabaya bersikap sebaliknya. Saat kota-kota
lain hanya bisa nggerundel saat diperlakukan tidak adil, Surabaya justru
melakukan perlawanan (boikot sepakbola) dengan sempurna (terencana,
terstruktur, dan efektif).
Namun kurang bijak rasanya jika memahami sejarah hebat
Persebaya hanya dari sudut perlawanan saja. Hal tersebut ibarat melihat sosok
Spiderman sebagai superhero semata tanpa melihat sisi personal seorang Peter
Parker.
Perlawanan hanyalah sepotong kecil pelajaran yang bisa
diambil dari sejarah Persebaya dan bukan yang utama.
Di Surabaya, sepakbola tidak pernah tercatat sebagai faktor
pemecah. Sebaliknya, sepakbola justru menjadi faktor pemersatu yang
menghancurkan sekat dan tembok tebal antara bangsa penjajah dan terjajah,
antara Mener dengan Inlander.
Sejarah mencatat sejak dulu sepakbola Surabaya selalu
menempatkan urusan sepakbola sebagai prioritas di atas segala kepentingan non
sepakbola (politik, kekuasaan atau kepentingan-kepentingan pribadi). Sesuatu
yang sulit atau bahkan mungkin tak akan pernah dipahami oleh petinggi-petinggi
Persebaya saat ini. Seandainya saja mereka mau belajar dari sejarah Persebaya.
SEJARAH SINGKAT PERSEBAYA
*SEJARAH
Persebaya didirikan oleh M. Pamoedji pada 18 Jun 1927. Pada
awal berdirinya, Persebaya bernama Soerabajasche Indische Voetbal Bond
(SIVB)[4]. Pada saat itu di Surabaya juga ada klub bernama Soerabajasche
Voetbal Bond (SVB), bonden (klub) ini berdiri pada tahun 1910 dan pemainnya
adalah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya.
Pada tanggal 19 April 1930, SIVB bersama dengan VIJ Jakarta,
BIVB Bandung (sekarang Persib Bandung), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM
Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran
Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam pertemuan yang diadakan di
Societeit Hadiprojo Yogyakarta. SIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh M.
Pamoedji. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota atau yang disebut
kejuaraan nasional perserikatan diselenggarakan. SIVB berhasil masuk final
kompetisi perserikatan pada tahun 1938 meski kalah dari VIJ Jakarta.
Ketika Belanda kalah dari Jepang pada 1942, prestasi SIVB
yang hampir semua pemainnya adalah pemain pribumi dan sebagian kecil keturunan
Tionghoa melejit dan kembali mencapai final sebelum dikalahkan oleh Persis
Solo. Akhirnya pada tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan
Sepak Bola Indonesia Soerabaja). Pada era ini Persibaja diketuai oleh Dr.
Soewandi. Kala itu, Persibaja berhasil meraih gelar juara pada tahun 1951 dan
1952.
Tahun 1959, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya
(Persatuan Sepak Bola Surabaya). Pada era perserikatan ini, prestasi Persebaya
juga istimewa. Persebaya adalah salah satu raksasa perserikatan selain PSMS
Medan, PSM Makassar, Persib Bandung maupun Persija Jakarta. Dua kali Persebaya
menjadi kampiun pada tahun 1978 dan 1988, dan lima kali menduduki peringkat
kedua pada tahun 1965, 1971, 1973, 1987, dan 1990.
Prestasi gemilang terus terjaga ketika PSSI menyatukan klub
Perserikatan dan Galatama dalam kompetisi profesional bertajuk Liga Indonesia
sejak 1994. Persebaya merebut gelar juara Liga Indonesia pada tahun 1996-97.
Bahkan Persebaya berhasil mencetak sejarah sebagai tim pertama yang dua kali
menjadi juara Liga Indonesia ketika pada tahun 2004 Green Force kembali merebut
gelar juara. Kendati berpredikat sebagai tim klasik sarat gelar juara, Green
Force juga sempat merasakan pahitnya terdegradasi pada tahun 2002 lalu. Pil
pahit yang langsung ditebus dengan gelar gelar juara Divisi I dan Divisi Utama
pada dua musim selanjutnya.
*KONTROVERSI
Informasi lebih lanjut: Sepak Bola Gajah
Dalam perjalanannya, Persebaya beberapa kali mengalami
kejadian kontroversial. Saat menjuarai Kompetisi Perserikatan pada tahun 1988,
Persebaya pernah memainkan pertandingan yang terkenal dengan istilah Sepak Bola
Gajah karena mengalah kepada Persipura Jayapura 0-12[5], untuk menyingkirkan
saingan mereka PSIS Semarang yang pada tahun sebelumnya memupuskan impian
Persebaya di final kompetisi perserikatan. Taktik ini setidaknya membawa hasil
dan Persebaya berhasil menjadi juara perserikatan tahun 1988 dengan mengalahkan
Persija 3 - 2 di final
Pada Liga Indonesia 2002, Persebaya melakukan aksi mogok
tanding saat menghadapi PKT Bontang dan diskors pengurangan nilai. Kejadian
tersebut menjadi salah satu penyebab terdegradasinya Persebaya ke divisi I.
Tiga tahun kemudian atau tahun 2005, Persebaya menggemparkan publik sepak bola
nasional saat mengundurkan diri pada babak delapan besar sehingga memupuskan
harapan PSIS Semarang dan PSM Makassar untuk lolos ke final. Atas kejadian
tersebut Persebaya diskors 16 bulan tidak boleh mengikuti kompetisi Liga
Indonesia. Namun, skorsing diubah direvisi menjadi hukuman degradasi ke Divisi
I Liga Indonesia.
*DUALISME
Artikel utama: Dualisme Persebaya Surabaya
Pada musim 2009/2010 merupakan awal mula dualisme Persebaya
Surabaya. Persebaya Surabaya (PT Persebaya Indonesia) mengalami degradasi ke
Divisi Utama akibat dipaksa melakukan pertandingan ulang sebanyak 3 kali
melawan Persik Kediri dengan tempat yang berbeda yaitu di Kediri,
Yogyakarta[6], dan Palembang[7]. Pada pertandingan ulang ketiga pihak Persebaya
menolak melakukan pertandingan ulang, pihak manajemen tidak terima dan tidak
mau ikut Divisi Utama kemudian mengikuti liga ilegal "Liga Primer
Indonesia" dari sebelumnya bernama Persebaya Surabaya (PT Surabaya
Indonesia) diubah menjadi Persebaya 1927 (PT Persebaya Indonesia).
Memanfaatkan slot Persebaya di Divisi Utama musim
selanjutnya, Wisnu Wardhana mengambil alih Persikubar (Kutai Barat) dan
mendaftarkannya sebagai Persebaya untuk mengikuti Kompetisi Divisi Utama.
Walaupun menyandang nama resmi Persebaya, tim bentukan Wisnu Wardhana tersebut
tidak terlalu mendapat tempat di hati Bonek (Suporter Persebaya), mereka lebih setia
untuk mendukung Persebaya "asli" yang terpaksa mengganti nama mereka
menjadi Persebaya 1927 akibat dualisme kompetisi, dan LPI tidak diakui sebagai
kompetisi resmi PSSI.
Persikubar Kutai Barat yang diambil Wisnu Wardhana dan
diubah nama menjadi Persebaya Surabaya (kini Bhayangkara FC) untuk bisa
mengikuti Liga Indonesia, kemudian berhasil promosi kembali ke Liga Super
Indonesia pada musim 2014. Kemudian pada musim 2015 sayangnya liga
diberhentikan setelah tidak diakui oleh Pemerintah dan kemudian Indonesia di
Banned oleh FIFA.
Pada musim 2015, Persebaya 1927 (PT Persebaya Indonesia)
memenangkan gugatan hak paten nama dan logo Persebaya,[8] sehingga secara
otomatis legalitas Persebaya Surabaya adalah dibawah PT. Persebaya Indonesia.
Hal ini mengakibatkan Persebaya Surabaya versi Wisnu Wardhana harus merubah
nama menjadi Bonek FC. Setahun kemudian, Bonek FC kembali mengubah nama menjadi
Surabaya United atas desakan Bonek yang tidak mau namanya dipakai untuk klub
yang tidak merepresentasikan mereka (Bonek tetap setia mendukung Persebaya
1927).
Pada musim 2016 Surabaya United melakukan merger dengan PS
Polri dan kemudian kembali merubah namanya menjadi Bhayangkara Surabaya United
dan berlanjut sampai dengan mengikuti kompetisi Indonesia Soccer Championship,
di paruh kedua kompetisi tepat pada bulan Mei 2016 Polri resmi membeli 100%
saham Bhayangkara Surabaya United dan menghapus nama belakang klub sehingga
sekarang bernama Bhayangkara FC, pada bulan yang sama hasil rapat Exco yang
digelar di Solo, Persebaya 1927 disahkan kembali sebagai anggota PSSI dan akan
disahkan pada KLB di Makassar dan akan kembali berkompetisi di Divisi Utama
musim 2017. Namun, pada kongres PSSI yang dilakukan di Jakarta pada 10 November
2016 membatalkan agenda pengesahan tersebut. Ketua PSSI terpilih, Edy Rahmayadi
menjanjikan akan menyelesaikan permasalahan Persebaya pada kongres selanjutnya
di Bandung.
Pada musim 2017 Persebaya Surabaya kembali berkompetisi di
Liga 2, dan berhasil menjadi juara dengan mengalahkan PSMS Medan di final, lalu
promosi ke Liga 1.
Pada pada musim 2018 Persebaya berhasil menduduki peringkat
5 di klasemen akhir Liga 1. Peringkat ini cukup mengejutkan publik sepakbola
tanah air karena sebagai tim promosi, tidak diduga Persebaya dapat menembus 5
besar, di saat yang sama tim-tim promosi kurang bisa bersaing bahkan ada yang
kembali harus turun kaste ke Liga 2.
Pada jeda kompetisi, sambil menunggu Kompetisi Liga 1 Tahun
2019 digulirkan, Persebaya mengikuti turnamen pramusim bertajuk "Piala
Presiden 2019", dan berhasil menjadi runner- up.
PROFIL BLOG PERSEBAYA FANS
* OPRATOR BLOG : MARIO GIBOL
* TANGGAL DI BUAT : SELASA,7 JANUARI 2020
* MISI BLOG : BERBAGI INFORMASI TENTANG PERSEBAYA & TIMNAS INDONESIA
Langganan:
Komentar (Atom)
PERSELA VS PERSEBAYA=1-3
https://youtu.be/_rlFNb1ptiU
-
*FINAL - PERSEBAYA vs persija=4-1 *SEMI FINAL -persija vs madura united=2-1 -PERSEBAYA vs arema=4-2 *GRUP-A Klasemen akhir Grup...






